tips membeli rumah bersama pasangan Ilustrasi. Bagi Kamu yang Baru Saja Menikah, Ada Sejumlah Tips Membeli Rumah Bersama Pasangan. Salah Satunya Adalah Memeriksa Kondisi Keuangan Masing-Masing (Foto: Rumah123.com/Freepik.com)

 

Baru saja menikah, saatnya kamu memiliki dan membeli rumah untuk keluarga. Apa saja sih tips membeli rumah bersama pasangan?  

Kamu yang baru saja menikah, biasanya memiliki banyak pilihan tempat tinggal mulai dari pondok mertua indah atau rumah orang tua. 

Pilihan lainnya adalah menyewa rumah petak atau kamar kost, mengontrak rumah, hingga menyewa apartemen. 

Saatnya kamu mulai berburu, mencari, dan membeli rumah bersama pasangan. Punya rumah sekaligus investasi. 

Situs properti Rumah123.com akan memaparkan sejumlah tips atau cara beli rumah bersama pasangan. Yuk, disimak. 

1. Menentukan Jenis Properti dan Kebutuhan 

Kamu dan pasangan harus berunding terlebih dulu akan tinggal di mana dan membeli properti jenis apa. 

Mungkin kamu lebih suka tinggal di apartemen di Tangerang lantaran kemudahan akses dan juga fasilitas yang lengkap. 

Sementara pasangan lebih menyukai tinggal di Bekasi karena dekat dengan lokasi tempat bekerja di kawasan industri. 

Kamu harus mempertimbangkan segala hal mengenai lokasi tempat tinggal karena setiap lokasi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Begitu juga dengan jenis properti, rumah atau apartemen juga mempunyai kekurangan dan kelebihan. 

Kalau kamu ingin segera memiliki anak, bisa jadi opsi tinggal di klaster perumahan bisa menjadi pilihan. 

2. Melihat Akses Transportasi, Fasilitas Sosial, dan Fasilitas Umum

Saat memilih tinggal di sebuah lokasi, pertimbangkan segala hal mulai dari akses transportasi, fasilitas umum, dan fasilitas sosial. 

Dari rumah ke kantor, kamu memiliki berapa alternatif transportasi? Mobil, motor, bus, atau kereta rel listrik (KRL Commuter Line). 

Mungkin kamu tidak setiap hari membawa mobil lantaran letih. Kamu bisa memiliki alternatif untuk naik bus atau kereta. 

Fasilitas umum dan fasilitas sosial juga harus dipertimbangkan dengan matang apalagi untuk calon orang tua. 

Berapa dekat pasar, rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga area komersial dengan rumah. 

Bayangkan kalau kamu mengantar anak sekolah memerlukan waktu 30 menit. Anak-anak tentu bisa lelah. 

Begitu juga dengan akses ke pasar, rumah sakit, dan lainnya. Bayangkan kalau selalu macet dan jauh. 

3. Memeriksa Kondisi Keuangan 

Kamu dan pasangan harus memeriksa kondisi keuangan masing-masing. Berapa pendapatan dan berapa pengeluaran setiap bulan. 

Apakah kamu memiliki cicilan kartu kredit, Kredit Tanpa Agunan (KTA), cicilan mobil atau cicilan motor, dan lainnya. 

Atau bisa juga kamu dan pasangan harus membiayai orang tua atau sekolah adik. Hal ini juga harus dihitung. 

Untuk itu, kamu dan pasangan harus mulai jujur dengan kondisi keuangan masing-masing agar tidak ada masalah. 

Semua jenis cicilan harus dikurangi atau dihilangkan agar kamu bisa mulai menabung uang muka dan menyicil rumah. 

4. Mempertimbangkan Joint Income 

Kalau kamu dan pasangan sama-sama bekerja atau memiliki penghasilan, maka bank atau developer bisa mempertimbangkan. 

Bank mempertimbangkan joint income bagi pasangan suami istri yang ingin mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau KPA (Kredit Pemilikan Apartemen). 

Perusahaan pengembang juga mempertimbangkan pasangan yang punya joint income saat mengambil skema pembayaran tunai bertahap. 

5. Mempersiapkan Diri Saat Salah Satu Sumber Pendapatan Hilang 

Kalau istri hamil dan kemudian melahirkan, bisa jadi setelah itu dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga selama beberapa waktu. 

Kondisi ini tentu bisa membuat suami menjadi sumber penghasilan satu-satunya alias tidak ada lagi joint income

Pengecualian kalau kamu dan pasangan sudah memiliki pekerjaan sampingan atau bisnis UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). 

Selain itu, kondisi perekonomian seperti saat pandemi covid-19, kamu atau pasangan bisa saja terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja)

Kamu dan pasangan harus mempersiapkan skenario juga sebagai langkah antisipasi agar tidak pusing menghadapinya. 

6. Menabung Uang Muka (DP)

Salah satu hal yang cukup pelik saat membeli rumah adalah mengumpulkan uang muka atau down payment (DP). 

Jika kamu ingin membeli rumah tapak di Bogor senilai Rp500 juta dengan uang muka 10 persen maka kamu harus membayar DP sebesar Rp50 juta. 

Berapa lama kamu harus mengumpulkan uang muka ini? Setahun atau enam bulan? Biasanya developer meminta uang muka secepatnya. 

Kalau kamu sudah memiliki tabungan, maka hal ini tidak masalah. Bagaimana kalau kamu tidak memilikinya sama sekali. 

7. Memilih Skema Pembayaran 

Setelah urusan DP selesai, maka masalah lainnya datang yaitu cicilan rumah. Ini menjadi masalah utama orang membeli rumah. 

Berapa jangka waktu kamu mengambil KPR? Lima tahun, sepuluh, lima belas atau dua puluh tahun? 

Semakin lama jangka waktunya, maka cicilan semakin kecil. Namun, kamu akan mencicil dalam waktu lama. 

Pilihan sepuluh tahun bisa menjadi opsi yang masuk akal, tetapi kamu masih sanggup membayar cicilan?

Baca juga: Saatnya Kaum Jomblo Punya Rumah, 7 Tips Beli Rumah untuk Single

Bagikan:
752 kali