Didi Kempot tutup usia. Para Sobat Ambyar, yuk kenang perjalanan karier dan kisah beliau dengan fakta-fakta berikut ini. 

didi kempot - rumah123.com Mendiang Dionisius Prasetyo semasa hidup (Sumber: Instagram.com/sobatambyar/)

Kabar duka kembali datang dari industri musik Indonesia. 

Dionisius Prasetyo atau yang akrab dipanggil Didi Kempot, menghembuskan napas terakhirnya pada 5 Mei 2020, di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah.

Penyanyi campursari ini meninggal dunia di usia yang ke 53 tahun, diduga karena serangan jantung. 

Berita tersebut tentunya menjadi duka yang mendalam bagi komunitas “Sobat Ambyar”, komunitas penggemar Didi Kempot.

Apalagi beberapa tahun belakangan, nama pria kelahiran 31 Desember 1966 ini semakin melambung. Bahkan ia berhasil menggaet penggemar dari segala usia.

Selain karena lagu-lagu berbahasa Jawa dengan tema cinta dan patah hati yang menjadi obat bagi para Sadboys dan Sadgirls, sosok Didi Kempot sendiri ternyata sangat ramah dan sederhana. 

Untuk mengenang sang Maestro, berikut 7 fakta tentang “The Godfather of Brokenheart” yang jarang diketahui oleh publik selama ini. 

Berasal dari keluarga seniman

Darah seni Didi ternyata berasal dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Ranto Edi Gudel merupakan seorang pelawak legendaris asal Solo.

Ibunya, Umiyati Siti Nurjanah, adalah seorang penyanyi keroncong yang menjadi panutan Didi dalam berkarier sebagai musisi.

San kakak, Mamiek Prakoso, mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi anggota dari grup lawak Srimulat. 

Putus sekolah saat kelas 2 SMA

Pria kelahiran Solo ini memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya saat kelas 2 SMA. 

Ia memilih untuk mengadu nasib sebagai musisi jalanan di Surakarta pada tahun 1984 hingga 1986.

Ayahnya sangat mendukung keputusan Didi, dan mengatakan bahwa sudah sepatutnya seorang seniman langsung unjuk diri dan tak perlu sekolah tinggi-tinggi. 

Mengawali karier sebagai pengamen jalanan 

Lantaran tak melanjutkan sekolahnya, ia memlih untuk menjadi musisi jalanan di Surakarta hingga tahun 1986. 

Pada tahun 1987, Didi mengadu nasib di Jakarta, menyusul sang kakak yang sudah lebih dulu merantau. 

Ia hijrah dari Surakarta ke Jakarta bersama grup pengamen "Kelompok Pengamen Trotoar” atau yang disingkat “Kempot”, yang kemudian ia abadikan menjadi nama panggungnya.

Sering tidur di dekat kuburan

didi kempot - rumah123.com Ulasan tentang Didi Kempot tahun 1999 yang dimuat di Koran Kompas (Sumber: Twitter.com/BiLLYKHAERUDIN)

Dalam wawancaranya bersama Kompas pada 24 Juli 2005, Didi mengatakan bahwa ia kerap bersikeras untuk menginap di Hotel Ibis, Slipi, setiap kali ke Jakarta, dan selalu memilih kamar yang menghadap ke arah perempatan Slipi.

Ternyata, ada cerita menarik dari perjuangan Didi selama merantau di Jakarta saat awal kariernya.

Perempatan Slipi merupakan tempat mangkalnya sebagai pengamen dulu. 

Setiap melewati tol Karawaci pun ia kerap melongok melalui jendela mobil ke arah sebuah kuburan di pinggir tol. 

Ternyata dulu, ia sering menumpang tidur di kuburan tersebut. 

Populer di Suriname, Amerika Selatan

Memiliki lagu berbahasa Jawa, ternyata karya Didi digandrungi oleh warga negara lain, khususnya Suriname.

Sejak merilis lagu “Angin Paramaribo”, Didi sempat dikira warga sana. Sebab, Paramaribo sendiri merupakan ibu kota negara Suriname.

Dilansir dari liputan Kompas, Selasa, 7 September 1999, jumlah warga keturunan Jawa banyak yang bermukim di Suriname.

Bagi mereka, lagu-lagu Jawa Didi mampu mengekspresikan kerinduan mereka terhadap tanah air.

Setiap kali Didi pentas di sana, penonton histeris, bahkan tak jarang yang memintanya untuk menyanyi lagu yang sama hingga tujuh kali.

Sampai terkenalnya Didi di sana, ia pernah diundang ke hotel oleh Presiden Suriname periode itu, Weyden Bosch, saat berkunjung ke Indonesia sekitar awal tahun 1998.

Bayaran ratusan juta sekali manggung, tapi memilih tampil di panggung kelurahan saat malam tahun baru

didi kempot - rumah123.com Sobat Ambyar, sebutan untuk penggemar Didi yang menonton konsernya (Sumber: Instagram.com/sobatambyar/)

Karier yang semakin meroket membuat bayaran Didi juga turut melambung. 

Dilansir dari Tribunnews.com, untuk mendatangkan Didi Kempot, biaya yang dikeluarkan Pemkab Wonogiri berkisar Rp 95 juta untuk pentas berdurasi satu jam.

Harga tersebut belum termasuk dengan fasilitas lainnya seperti hotel, transit, sound system, dan panggung.

Jika ditotal, bayaran keseluruhannya sekali manggung hampir menyentuh Rp200 juta.

Namun, di malam pergantian tahun baru 2020, ia lebih memilih tampil di sebuah desa di pelosok Boyolali, Jawa Tengah.

Padahal, ada banyak tawaran tampil di Ibu Kota untuk momen tersebut. Namun semuanya ia tolak.

Ia ingin menghibur penggemarnya yang berada di pelosok, agar bisa ikut menontonnya. 

Itulah alasan kenapa Didi memilih panggung kelurahan walaupun mendapatkan banyak tawaran manggung dengan bayaran fantastis. 

Berhasil kumpulkan Rp7,3 miliar dari konser amal untuk COVID-19

Sebelum meninggal dunia Selasa 5 Mei 2020, Didi Kempot sempat menggelar konser amal untuk penanganan virus corona bersama Kompas TV.

Melalui konser amal Didi Kempot yang digelar online tersebut donasi yang terkumpul mencapai Rp 7,3 miliar untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat.

Dalam konser tersebut, ia juga berpesan kepada sobat ambyar untuk tidak mudik, dengan menciptakan lagu Ojo Mudik.

Itu dia 7 fakta mengagumkan tentang Pakde Didi. Selamat jalan, Lord Didi, the Godfather of Broken Heart

Bagikan:
1604 kali