Bukan hanya faktor kesehatan, faktor ekonomi pun ikut terdampak virus corona. Agar kondisi finansial keluarga tak morat marit akibat ini, gunakan cara mengelola keuangan berikut!

mengelola keuangan - Rumah123.com Ilustrasi seorang pria memikirkan cara mengelola keuangan di tengah krisis - Rumah123.com

Wabah virus corona yang masuk ke Indonesia bukan hanya berdampak pada aspek kesehatan masyarakat saja, melainkan juga aspek ekonomi.

Pengusaha harus gulung tikar, karyawan dirumahkan, pekerja informal pun kehilangan sejumlah pendapatan.

Bahkan, tak perlu jauh-jauh mengambil contoh, tak dipungkiri ekonomi pribadi pun ikut terkena dampak.

Pengeluaran membengkak karena adanya kebutuhan ekstra seperti vitamin, sabun cuci tangan, hand sanitizer, yang harus dibeli dalam jumlah lebih banyak. 

Atau bahkan, sebelumnya pengeluaran-pengeluaran tersebut tak ada sama sekali.

Pekerjaan yang diselesaikan dari rumah membuat tagihan listrik ikut meningkat. 

Anak-anak yang belajar dari rumah pun turut berkontribusi dalam naiknya pengeluaran, ketika iuran sekolah tetap berjalan seperti biasa. 

Di saat krisis seperti ini, setiap rumah tangga harus bijak dalam mengelola keuangan. 

6 cara bijak mengelola keuangan di saat krisis akibat corona 

Seperti apa pengelolaan keuangan yang baik untuk diterapkan?

Dilansir dari Ellevest.com, berikut saran dalam mengelola keuangan ketika krsis dari perencana keuangan Rachel Sanborn Lawrence.

1. Menghapus pengeluaran tidak penting dan mengalokasikannya sebagai dana darurat

Tips mengelola keuangan yang pertama adalah dengan membuat dana darurat.

Inilah kenapa para perencana keuangan sangat menyarankan setiap orang untuk memiliki dana darurat.

Di saat-saat krisis seperti inilah dana darurat sangat berguna. Namun, jika kamu terlanjur tak memilikinya, masih ada solusi lainnya.

Jika penghasilanmu terdampak oleh virus, misalnya seperti gaji dipotong, diberhentikan dari pekerjaan, atau pendapatan usaha berkurang, maka saatnya untuk mengurangi pengeluaran yang tak penting. 

Lalu, alokasikan pengeluaran yang telah dihapus tersebut menjadi dana darurat. 

2. Mempertimbangkan opsi kredit (namun tetap harus bijak)

Apabila dana masih kurang juga, tak ada salahnya untuk mempertimbangkan opsi kredit di luar sana.

Namun jangan lupa untuk memperhatikan hal-hal berikut:

- Utang yang dimiliki saat ini

Jika keadaan mengharuskanmu untuk mengambil kredit, baik itu dari kartu kredit, pinjaman tunai, maupun kredit tanpa agunan, cek dulu berapa banyak utang yang kamu miliki saat ini.

Bila belum mencapai 30% dari total penghasilan keluarga, kamu bisa memanfaatkan kembali mengambil kredit lebih besar.

Paling tidak, sampai keadaan benar-benar stabil dan pekerjaanmu kembali aman. 

Namun jika utang yang dimiliki sudah terlalu banyak, sebisa mungkin hapus opsi berutang. 

Jangan sampai kemudahan yang kamu dapatkan saat ini malah menjadi bumerang di masa depan. Kamu tentu tak mau kan terlilit utang pasca krisis nanti?

- Suku bunga

Sudah yakin dengan opsi kredit? Jangan lupa untuk mencari lembaga keuangan yang menawarkan bunga rendah.

Cara ini bisa membantumu meminimalkan bunga yang harus dibayar nanti.

Buat daftar lembaga keuangan dengan informasi bunganya, prioritaskan mana yang memiliki bunga terendah.

3. Lakukan peninjauan ulang pada pengeluaran selama ini

Mungkin kamu bukan tipe orang yang mencatat pengeluaran bulanan. 

Supaya kamu bisa memprioritaskan mana pengeluaran yang harus tetap ada dan mana yang bisa dihapus, buat peninjauan ulang pada pengeluaran selama ini.

Biaya transportasi mungkin akan berkurang karena kamu tak perlu pergi ke kantor. 

Kamu juga tak perlu membayar biaya daycare karena bisa mengurus anak sendiri di rumah selama kamu kerja dari rumah.

Alokasikan pengeluaran-pengeluaran tersebut untuk hal lain yang lebih penting. 

Untuk menambah biaya kebutuhan pokok misalnya, atau membeli obat-obatan dan vitamin.

4. Ajukan refinancing pinjaman

Ketika tagihan-tagihan mulai datang, atau bahkan sampai ada debt collector yang menghampiri rumah, refinancing bisa menjadi opsi.

Refinancing adalah cara pembayaran atau pelunasan pinjaman dengan mengajukan pinjaman baru yang bunganya lebih rendah. Jadi bisa dibilang, cara ini akan meringankanmu dalam membayar utang. 

Biasanya, pengajuan pinjaman baru bisa di lembaga penyedia pinjaman yang sama dengan utang sebelumnya, atau di lembaga keuangan baru. 

Walaupun kesannya seperti ‘gali lubang tutup lubang’, cara ini cukup lumrah dilakukan. 

Ketika kamu melakukan ini Dalam pengajuan refinancing, ada aset yang dibutuhkan sebagai agunan. Misalnya, mobil, motor, rumah, dan tanah.

* Penting untuk diingat:

Ingatlah bahwa dengan refinancing, kamu akan memulai utang baru. Namun bebannya akan sedikit berkurang.

Maka dari itu refinancing harus dilakukan dengan penuh perhitungan. 

Baca juga: Ekonomi Lesu, Ini 8 Peluang Bisnis Baru yang Bisa Dilakukan Selama Corona

5. Ambil pekerjaan sampingan yang menghasilkan uang

Ketika penghasilanmu berkurang, maka mau tak mau kamu harus mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang untuk menutup kekurangan tersebut.

Di saat seperti ini, cari pekerjaan yang bisa dilakukan melalui online. 

Misalnya menawarkan jasa desain grafis, menjadi penulis lepas, atau menjual barang-barang yang memang sedang dibutuhkan, seperti masker kain contohnya.

Kamu juga bisa menawarkan jasa menjadi tutor lepas untuk anak tetangga, mengingat banyak orang tua yang mulai kepusingan mengajarkan anak mereka di rumah. 

Maksimalkan kemampuan yang kamu miliki untuk menghasilkan uang. 

6. Hindari mengecek portofolio investasi terus-terusan

Para investor, khususnya untuk mereka yang berinvestasi di instrumen pasar uang, bisa dipastikan panas dingin ketika melihat profil investasi mereka.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terus menurun karena imbas virus corona.

Apalagi perekonomian global pun ikut melemah akibat corona, sehingga banyak ketidakpastian yang membuat kita merasa tidak aman.

Tak sedikit yang berpikiran untuk menarik dana mereka sebelum nilai investasi semakin turun. 

Namun sebaiknya, jika dana tersebut bukan untuk hal yang bersifat urgent, tunda terlebih dahulu untuk menarik dana investasi.

Hindari untuk mengecek portofolio investasimu di tengah krisis seperti ini, biarkan waktu yang memperbaiki kembali nilainya. 

Bagikan:
1630 kali