Rokok Djarum, bisnis pertama yang membuat Hartono bersaudara menjadi konglomerat seperti sekarang - Rumah123.com Rokok Djarum, bisnis pertama yang membuat Hartono bersaudara menjadi konglomerat seperti sekarang - Rumah123.com

Majalah Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia pada 2019. Hartono bersaudara, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono masih menempati urutan teratas orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan bersih senilai US$37,3 miliar atau sekitar Rp525,32 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.077 per dolar AS).

Hartono bersaudara belum tergantikan di puncak daftar orang terkaya Indonesia sejak 2008 lalu. Mereka tercatat telah berada di posisi teratas sebagai orang paling kaya di Indonesia selama 11 tahun berturut-turut. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah harta kedua bersaudara ini mengalami peningkatan sebesar US$ 2,3 miliar. Di mana tahun lalu, jumlah kekayaan mereka mencapai US$ 35 miliar atau setara Rp 490 triliun (dengan kurs Rp 14.000/dolar). 

Dari mana saja sumber aset Hartono bersaudara hingga menjadikannya orang paling kaya selama 11 tahun berturut-turut?

Industri perbankan

Forbes menyebut bahwa lebih dari dua-pertiga kekayaan Hartono bersaudara datang dari kepemilikan mereka atas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bank BCA sebelumnya dipimpin oleh Sudono Salim, dan mengalami keterpurukan saat krisis moneter di tahun 1998 lalu. Robert dan Michael Hartono pun memilih untuk membeli saham BCA di kondisi yang tengah terpuruk. 

Hartono bersaudara kini menguasai saham BBCA melalui PT Dwimuria Investama Andalan. Dwimuria tercatat memiliki sebanyak 54,94% dari total saham BBCA yang beredar sejumlah 24,66 miliar unit (per akhir 2018). Dilansir dari Reuters, per tahun 2018 BBCA memiliki total aset senilai Rp824,8 triliun atau yang terbesar ketiga di Indonesia setelah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (Rp1.296,9 triliun) dan PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (Rp1.202,3 triliun). 

Industri rokok

Walaupun dua-pertiga kekayaan mereka berasal dari sektor perbankan, yang pertama kali menjadikan Hartono bersaudara kaya raya justru raksasa produsen rokok di Indonesia yakni PT Djarum. Berawal dari bisnis rokok yang dimulai sang ayah, Oei Wie Gwan. Pada 1951, Oei Wie Gwan mengakuisisi perusahaan rokok Indonesia yang bangkrut, kemudian dinamai Djarum. Perusahaan rokok asal Kudus, Jawa Tengah itu berkembang menjadi salah satu pembuat rokok terbesar di Indonesia.

Industri agribisnis

Selain melalui Bank BCA dan rokok Djarum, Hartono bersaudara juga punya bisnis lain yang memiliki profit cukup besar. Salah satunya adalah PT Hartono Plantation Indonesia (HPI) yang berfokus pada pengadaan kelapa sawit. Dilansir dari SWA.co.id, perusahaan yang masih berada di bawah naungan Grup Djarum ini telah berdiri sejak 2008. Berlokasi di Kalimantan Barat, HPI-Agro memulai penanamannya di tahun 2010. Kini, bisnisnya telah berkembang dengan komoditi lain, yakni cengkeh, tembakau, tebu, jarak kepyar, dan minyak atsiri. Pada 2018 lalu, areal tertanam HPI-Agro untuk kelapa sawit 75 ribu ha, tebu 14,1 ribu ha, cengkeh 3.000 ha, dan tanaman castor  2.700 ha.

Industri elektronik

Di bidang elektronik, Robert dan Michael mengembangkan bisnisnya melalui Polytron. Grup Djarum berencana fokus memproduksi televisi, kulkas, AC dan telepon seluler (ponsel). Perusahaan itu berambisi memenangkan pasar televisi LCD dan LED yang masih dipegang pabrikan Jepang dan Korea Selatan. Saat ini, Polytron memiliki 3 lokasi pabrik yang berlokasi di Jawa Tengah, dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 10.000 karyawan dan total area pabrik seluas 69 hektar.

Industri digital

Mengikuti perkembangan teknologi, Hartono bersaudara mulai mengembangkan digital melalui e-commerce Blibli.com. Grup bisnis Djarum pun semakin menunjukkan keseriusannya bermain di industri digital. Melalui perusahaan modal ventura GDP Venture, grup ini terus memperluas kepemilikan sahamnya dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan startup digital. Mulai dari Kaskus, yang merupakan pemimpin dalam bidang situs forum online.

Ada pula Tiket.com, perusahaan online travel agent yang diambil alih 100 persen sahamnya. Masih melalui GDP Venture, mereka juga menyuntikkan dana untuk beberapa perusahaan rintisan lainnya, yakni Cumi, Garasi.id, Gojek, Infokost.id,Tinkerlust, Bobotoh.id, Bolalob, Beritagar.id, IDN Media, Halodoc, Dailysocial.id, Endeus, Historia, Kurio, Kumparan, Kicir, Opini.id, Womantalk.com, dan Sweet Escape.

Industri properti

Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali Grup Djarum ini. Keluarga Hartono merupakan pemilik sejumlah properti prestisius. Di antaranya Menara BCA, Grand Indonesia Shopping Town, Hotel Indonesia Kempinski, dan Kempinski Residence. Sementara proyek lain berkelas menengah bawah adalah World Trade Center Mangga Dua, Mal Daan Mogot, Karawang Resinda, dan Padma Hotel Karawang.

Industri makanan dan minuman

Di luar bisnis di atas, Djarum Group juga memiliki unit bisnis makanan dan minuman. Lewat PT Savoria Kreasi Rasa, ada merek minuman Yuzu. Sedangkan di bawah PT Sumber Kopi Prima, terdapat kopi dengan merek Delizio Caffino.

Bagikan:
46234 kali